KOMPAS.com – Akhir 1400-an, sebuah penyakit misterius menjangkiti Eropa. Penyakit itu membuat korbannya menderita bisul serta daging yang membusuk dan menewaskan hingga 5 juta orang.
Kini, kita telah mengenali penyakit itu sebagai sifilis. Namun, selama berabad-abad lamanya, sejarawan serta arkeolog masih memperdebatkan asal mula penyakit tersebut di Eropa.
Salah satu teori yang disebut teori Kolombia menyebutkan kalau Christopher Columbus dan krunya-lah yang bertanggung jawab membawa epidemi itu dari Amerika.
Hingga akhirnya, sebuah studi baru tampaknya berhasil menguak kisah sebenarnya di balik epidemi sifilis di Eropa.
Seperti dikutip dari Sciencemag, Sabtu (15/8/2020), para peneliti menggunakan DNA dari patogen yang diekstrak dari sisa-sisa tulang sembilan orang Eropa di masa lalu.
Tulang-tulang tersebut didapat dari lima situs arkeologi di Finlandia, Estonia, dan Belanda. Selanjutnya, para peneliti mengurutkan DNA Treponemal dari empat sampel dan membandingkan urutannya dengan galur sifilis modern.
Hasilnya ternyata cukup mengejutkan.
Para peneliti menemukan kalau beragam galur sifilis ternyata sudah ada beberapa dekade sebelum pelayaran Columbus.
Temuan ini pun menjadi bukti pertama bahwa sifilis ada di Eropa sebelum Columbus pergi ke Amerika.
Meski beberapa pihak menyebut masih ada beberapa kekurangan terkait skala waktu yang tepat dari sampel dalam penelitian tersebut, setidaknya studi telah memberikan bukti tambahan bahwa patogen telah ada dan berkembang di Eropa.
Langkah selanjutnya, menurut Johannes Krause, peneliti dalam studi ini sekaligus ahli arkeogenetik, adalah melakukan analisis dari DNA yang berusia lebih tua lagi untuk mengetahui perjalanan galur T.pallidum di Eropa.
Sifilis sendiri disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini bukan hanya masalah masa lalu karena hingga kini, masih ada orang terinfeksi setiap tahunnya.
Ahli paleogenetik dari University of Zürich Verena Schuenemann menyebutkan bahwa dengan memahami kapan dan di mana T. pallidum berasal serta bagaimana ia berevolusi, dapat membantu mempelajari perilakunya di masa depan, termasuk juga dalam hal pengobatannya.
Studi ini telah dipublikasikan di Current Biology.
#Tahun #Dituduh #Ternyata #Columbus #Bukan #Pemicu #Endemi #Sifilis #Eropa
Klik disini untuk lihat artikel asli